B i o g r a f i   S i n g k a t

 

 

Sidang  Para Menteri & Jenderal

 

Apa yang kita catat dan bersejarah dari R. Soeprapto? Banyak! Dia-lah yang berani memanggil sekian menteri dan sejumlah jenderal utnuk diperikasa. Dia pula-lah yang turun sendiri menuntut Sultan Hamid – Menteri Negara Kabinet Natsir – karena pemberontakan bersama Westerling. Dalam zaman parlementer dan jaksa agung di bawah menteri kehakiman, Soeprapto justru berani memanggil menteri atau jenderal yang melanggar hukum. Dari sekian keberanian yang paling top, R. Soeprapto-lah satu-satunya jaksa agung yang menolak dipanggil ke istana untuk serah-terima jabatan.

 

Pada periode awal pulihnya kedaulatan, tercatat kerawanan politik, keamanan dan keuangan negara. Banyak gerakan separatis yang muncul. Sebutan peristiwa APRA, RMS, DI/TII dan PRRI. Di ibukota, tentara ynag tidak puas terhadap tingkah laku politisi dan Bung Karno “ikut campur dan memihak dalam pergolakan Angkatan Darat” melakukan “kudeta” ke Istana Presiden. Untuk semuanya itu, Jaksa Agung R. Soeprapto tidak sengan memanggil, memeriksa dan turun menuntut sendiri kepda siapa saja yang tersangkut di dalam kerawanan itu.

 

Pemerikasaan pertama dilakukan terhadap Menteri Negara Sultan Hamid. Sampai di persidangan, yang majelis hakimnya diketuai Ketua MA, Mr. wirjono Prodjodikoro, tampil Jaksa Agung, R. Soeprapto sebagai penuntut umum. Hasilnya, Sultan Hamid yang pro Belanda dijatuhi hukuman 10 tahun dari tuntutan 18 tahun potong masa tahanan. Karena peradilan ini menganut asas forum privilegiatum, maka tidak dikenal banding dan kasasi. Itu putusan jatuh   8 April 1953, dengan mempergunkan pasal-pasal KUHP.

 

Selama berlangsung pengadilan Sultan Hamid, Jaksa Agung R. Soeprapto disibukan memeriksa Jenderal Nasution dan anak-buahnya. Seperti Kemal Idris (terakhir duta besar dan mantan Pangkostrad), dan beberapa perwira lainnya. Kewenangan ini dimungkinkan, karena jaksa agung adalah penuntut umum tertinggi, termasuk dalam lingkup peradilan ketentaraan, berdasar UU no.6/1950. UU ini kemudian diadakan perubahan, yakni jaksa tentara tidak dapat menyerahkan berkas perkara tanpa persetujuan komandan tentara yang bersangkutan. Masa itu banyak jaksa di oditurat militer diisi oleh jaksa sipil dengan diberi pangkat militer tituler. Atas dasar UU No.6/1950 ini pula, R. Seoprapto merangkap sebagai Jaksa Agung Militer. Beliau  diberi pangkat letnan jenderal, seperti diatur dalam PP. no. 24/1950.

 

Semasa diperiksa itu, Jenderal Nasution dan Kemal Idris dikenakan tahanan rumah dan kota. Hasilnya, Pak Nas dicopot dari jabatan Kepala Staf Angkatan Darat (KASAD). Tiga tahun kemudian, 1955, Jenderal Nasution diangkat kembali menjadi KASAD dan “berbulan madu” dengan Bung Karno. Bahkan tahun 1959 dalam pembentukan Kabinet Karya I, Nasution ikut menyusun kabinet yang menempatkan jaksa agung di bawah Koordinasi Menteri Bidang Keamanan, dengan Jenderal Nsution sebagai Menteri Bidang keamanan. Waktu kabinet ini terbentuk, Pak Prpato baru beberapa bulan diberhentikan.

 

Selepas Pemilu pertama (1955) PKI muncul sebagai besar. Bersama Bung Hatta dan orang-orang yang tidak suka komunis, Pak Prapto sudah memperingatkan Bung Karno. Agaknya mulai masa itu, “ Pak Prapto lebih dekat dengan Bung Hatta daripada Bung karno,” demikian cerita Ny. R. Soeprapto. Dalam era kabinet parlementer ini, kendai jaksa agung di bawah koordinasi Mneteri Kahakiman, tapi dalam setaip rapat kabinet atau acara kenegaraan lainnya, tempat duduk jaksa agung dekat dengan Presiden. Biasanya yang dekat dengan Presiden – di samping Wakil Presiden dan Perdana Menteri – adalah Meneteri Luar Negeri, Pertahanan dan Keamanan, Dalam Negeri dan Jaksa Agung.

 

Kekurangdekatannnya dengan Bung Karno, selain tidak suka terhadap komunis yang ingin mempengaruhi jalan penegakan hokum, juga merasa dihalangi sewaktu memeriksa Mr. Isqak dan Ruslan Abdulgani. Waktu itu, Pak Prapto diminta Presiden Soekarno agar pemerikasaan terhadap Ruslan tidak diteruskan. Tapi, Jaksa Agung tidak menerima permintaan itu. Pemeriksaan berjalan terus, dan di Pengadilan Negeri Jakarta Cak Roeslan (kini Ketua P-7) yang mantan Menteri Luar Negeri dan Penerangan itu, dijatuhi hukuman denda karena tindak pidana ekonomi (cek kosong).

 

Dalam pemeriksaan terhadap Mr. Isqak Tjokrohadisuro (Menteri Kemakmuran), selain tekanan dari Bung Karno, juga istri Isqak menemui Soeprapto  di rumah Jalan Imam Bonjol. Entah apa yang dirasakan Pak Prapto, karena Mr. Isqak adalah teman sekolahnya dulu di Rectschool (RS, 1920) yang lulusnya juga bersamaan. Tetapi, sekali Pak Prapto menolak permintaan Bung Karno dan biasanya Bung Karno segan mengulangi. “barangkali Bung Karno merasa sungkan, karena lebih muda ketimbang bapak. “ ucap Bu Prapto. Memang, Bung Karno 4 tahun lebih muda. Diantara pejabat dan para tokoh nampaknya R. Soeprapto dan Mr. iswak bersaing tertua. Di tahun 1951, bung Karno berusai 50 tahun, Pak Prapto dan Mr. Isqak berusia 55 dan 56 tahun.

 

Terhadap delict pers yang menuduh Asa Bafagih membocorkan rahasia negara, Jaksa Agung R. Soeprapto malah mendeponir perkara itu. Alasannya, karena belum jelas apa yang dimaksud dengan rahasia negara yang dibocorkan Asa Bafagih. Jaksa Agung tidak beralasan demi ketertiban atau yang berbau politik. Pemeriksaan terhadap Asa Bafagih diprotes segenap wartawan, buruh percetakan dan akademisi pers. Itu kejadian di tahun 1953, ketika R. Soeprapto baru dua tahun menjabat Jaksa Agung.

 

Selain menangani perkara menteri dan jenderal, jaksa agung kita ini “dekat “ dengan garong. Di awa proklamasi dulu, Kutil memilih mengungsi bersama pak Hamim Soeprapto, tanpa ada dendam atau khawatir dibunuh tentara. Begitu-pun, para garong yang berafiliasi dengan gerombolan DI, minta dengan hormat “Jika tidak diperiksa Pak Prapto, kami tidak akan menyerah!”.

 

Memang benara gerombolan garong (sekitar 15 orang) menyerah dan diperiksa kejaksaan. Supaya mereka merasa aman dan yang memeriksa Pak Prapto sendiri, para garong ini di “simpan” di rumah dinas Jaksa Agung. Supaya mereka berolah raga dan punya kesibukan, oleh Pak Prapto disediakan beberapa sepeda. Tapi, setelah sekian minggu Bu Prapto merasa tidak enak – bukan karena omongan orang-tapi ibu empat anak ini memergoki para garong mengintip ruangan lain di rumah itu, terpaksalah, para garong ini diserahkan kepada polisi.

 

 

R.Soeprapto Bapak Kejaksaan RI

Masa Sekolah dan Dinas

Dinas di Pekalongan

Pengungsian di Jogyakarta

zaman Parlementer

Sidang Para Menteri & Jenderal

Mengakhiri Masa Jabatan

Da ftar Riwayat Pendidikan dan Pekerjaan

Lambang Keberanian , Kecerdasan & Ketelitian



Kantor Pemasaran Buku 

Mengadili Menteri Memeriksa Perwira

 

Wijaya Graha Puri ,Blok A 3-4

Jl. Wijaya II ,Jakarta 12160 - Indonesia

Phone: +6221-7262762

Fax:+6221-72797569

email :info@rsoeprapto.com




Penerbit
Gramedia Pustaka Utama
Redaksi
A one-on-one guide to the Nike products that meet your personal demands.
Foto R.Soeprapto

 

Copyright © 1999-2001 Daksa-Studio Hak Cipta dilindungi undang-undang.
Tidak diperkenankan mereproduksi seluruh maupun sebagian tampilan dan/atau isinya
dalam bentuk maupun media apapun tanpa ijin tertulis dari
Daksa-Studio